Desakralisasi filsafat


Download 465 b.
Sana24.05.2018
Hajmi465 b.











-Desakralisasi filsafat

  • -Desakralisasi filsafat

  • Desakralisasi kosmos

  • Desakralisasi sains

  • Desakralisasi bahasa

  • Desakralisasi agama



Kebenaran ada dalam semua tradisi

  • Kebenaran ada dalam semua tradisi

  • Konsep Manusia

  • Intelek dan Rasio



menolak pandangan hidup filsafat modern yang relatifistik, positivistik dan rasionalistik.

  • menolak pandangan hidup filsafat modern yang relatifistik, positivistik dan rasionalistik.

  • menegaskan titik-temu agama-agama.







Ilmu yang utama adalah ilmu tentang spiritual. Ilmu yang lain harus dicapai juga, namun ilmu tersebut hanya akan bermakna dan bermanfaat jika dikaitkan dengan ilmu spiritual.

  • Ilmu yang utama adalah ilmu tentang spiritual. Ilmu yang lain harus dicapai juga, namun ilmu tersebut hanya akan bermakna dan bermanfaat jika dikaitkan dengan ilmu spiritual.

  • Substansi dari ilmu spiritual bersumber dari supranatural dan transendent. Ilmu tersebut adalah universal. Oleh sebab itu, ilmu tersebut tidak dibatasi oleh suatu kelompok agama tertentu. Ia adalah milik bersama semua Tradisi Primordial.

  • Perbedaan teknis yang terjadi merupakan jalan dan cara yang berbeda untuk merealisasikan Kebenaran. Perbedaan tersebut sah-sah saja karena setiap agama memiliki kontribusinya yang unik untuk memahami Realitas Akhir.













Rasio dan Intelek

  • Rasio dan Intelek















Menolak sekularisasi dan desakralisasi ilmu pengetahuan

  • Menolak sekularisasi dan desakralisasi ilmu pengetahuan

  • Mengartikulasikan kembali warisan S & T Islam sebagai contoh Islamisasi S & T modern

  • Saintis Muslim terdahulu mengadaptasikan S & T kuno dan menyesuaikanya dengan pandangan alam/hidup Islam untuk menciptakan S & T yang Islami.



Tawhid digunakan sebagai dasar untuk integrasi alam tabi’i (natural world)

  • Tawhid digunakan sebagai dasar untuk integrasi alam tabi’i (natural world)

  • Alam tabi’i sebagai tanda kepada Realitas Absolut

  • Mengimani kepada multi-eksistensi seperti alam tabi’i, alam yang tidak tampak, dll.



Alam adalah simbol/bayangan/dari Realitas Absolut

  • Alam adalah simbol/bayangan/dari Realitas Absolut

  • Sains Islam: alam ini adalah sakral tetapi bagi sains modern tidak tetapi sebagai tujuan akhir (an end in itself)



An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines: Conceptions of Nature and Methods Used for its Study by the Ikhwan al-Shafa, al-Biruni and Ibn Sina (1964)

  • An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines: Conceptions of Nature and Methods Used for its Study by the Ikhwan al-Shafa, al-Biruni and Ibn Sina (1964)

  • Science and Civilization in Islam (1968)

  • Islamic Science: An Illustrated Study (1976)

  • Knowledge and the Sacred (1981)

  • Man and Nature (1987)

  • The Need for a Sacred Science (1993)



Sains sakral dibangun di atas konsep kesatuan transendent agama-agama yang termanifestasikan dalam ruang dan waktu yang berbeda.

  • Sains sakral dibangun di atas konsep kesatuan transendent agama-agama yang termanifestasikan dalam ruang dan waktu yang berbeda.

  • Phytagoras dan Plato mengekspresikan kebenaran dalam semua agama. Oleh sebab itu, mereka berada dalam alam Islami dan tidak dianggap asing kepadanya. (Knowledge and the Sacred, 71-72).

  • Tradisionalisasi sains atau sains sakral.









I.R. al-Faruqi mengundang S. M. N. Al-Attas pada tgl 22-24 April 1976 sebagai pembicara utama pada forum Association of Muslim Social Scientists (AMSS) di Philadelphia.

  • I.R. al-Faruqi mengundang S. M. N. Al-Attas pada tgl 22-24 April 1976 sebagai pembicara utama pada forum Association of Muslim Social Scientists (AMSS) di Philadelphia.

  • I. R. Al-Faruqi meminta S. M. N. Al-Attas menulis buku Dialogue with Secularism pada tanggal 17 Februari 1976.



Menyampaikan gagasan “Islamizing the Social Sciences” pada Konferensi Dunia Pertama Pada tahun 1977.

  • Menyampaikan gagasan “Islamizing the Social Sciences” pada Konferensi Dunia Pertama Pada tahun 1977.

  • Mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT) pada tahun 1981.

  • Menulis The Islamization of Knowledge (IIIT: 1982).

  • Menulis Tawhid: Its Implications for Thought and Life (1982)



Akar dari persoalan ummat: politik, ekonomi, agama, budaya dan pendidikan.

  • Akar dari persoalan ummat: politik, ekonomi, agama, budaya dan pendidikan.

  • Memfokuskan pada ilmu-ilmu sosial

  • (Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences)

  • Islamisasi dibagun di atas konsep Tawhid, Penciptaan, Kebenaran dan Ilmu Pengetahuan, Kehidupan dan Kemanusiaan.



Pendekatan hukum

  • Pendekatan hukum

  • Berdasarkan kepada usul fiqh dan teks Qur’an/Hadits

  • Berguna untuk menentukan hukum dan etika dari produk sebuah sains tetapi bukan isi sains tersebut.



























Ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep, praduga, simbol, dari ilmu modern; beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika; penafsiran historisitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, dan rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung kaitnya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti.

  • Ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep, praduga, simbol, dari ilmu modern; beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika; penafsiran historisitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, dan rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung kaitnya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti.



  • Tantangan Ilmu Barat

  • Akibat dari penerimaan ilmu Barat sekuler adalah hilangnya Adab, (desacralization of knowledge). Hilangnya Adab berimplikasi pada hilangnya sikap adil dan kebingunan intelektual (intellectual confusion), yaitu :

  • Ketidak-mampuan seseorang membedakan antara ilmu yang benar dari ilmu yang dirasuki oleh pandangan hidup Barat.

  • Hilangnya Adab dalam masyarakat dg menyamaratakan setiap orang dengan dirinya dalam hal pikiran dan perilaku.

  • c) Penghilangan otoritas resmi dan hirarki sosial dan keilmuan.

  • d) Mengkritik ulama dimasa lalu yang banyak memberi kontribusi kepada ilmu pengetahuan Islam.

  • S. M. N. al-Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of the Future, London, Mansell, 1985. hal. 104 - 5



  • Jika prinsip-prinsip dan metode-metode dasar ilmu-ilmu ini tidak dapat ditundukkan oleh suatu bentuk formula yang mengIslamkan, sedangkan semua itu membahayakan, maka, sebagaimana asalnya, semua itu akan terus berbahaya terhadap kesejahteraan Masyarakat Islam.

  • Al-Attas



Pra-syarat Islamisasi ilmu

  • Pra-syarat Islamisasi ilmu

  • Seseorang yang mengislamkan ilmu perlu memenuhi pra-syarat, yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan-hidup Islam (the Islamic worldview) sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat.



Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer melibatkan dua proses:

  • Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer melibatkan dua proses:

  • (i) mengisoliir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat (5 unsur yang telah disebutkan sebelumnya), dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun, ilmu-ilmu alam, fisika dan aplikasi harus diislamkan juga khususnya dalam penafsiran-penafsiran akan fakta-fakta dan dalam formulasi teori-teori.



(ii) memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevant.

  • (ii) memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevant.



Membebaskan manusia dari magik, mitologi, animisme, tradisi budaya nasional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dari kontrol sekular kepada akal dan bahasanya.

  • Membebaskan manusia dari magik, mitologi, animisme, tradisi budaya nasional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dari kontrol sekular kepada akal dan bahasanya.

  • membebaskan akal manusia dari keraguan (shakk), dugaan (Ðann) dan argumentasi kosong (mira’) menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, intelligible dan materi



Mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan ungkapan sekular.

  • Mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan ungkapan sekular.









Asas:

  • Asas:

  • Pandangan hidup Islam berdasarkan wahyu,hadith, akal, pengalaman,intuisi

  • Pendekatan: Tawhidi.

  • Sifat: rasional, metafisis, dan supra-rasional, ada yang permanen ada yang berubah.

  • .

  • Makna Realitas dan Kebenaran:

  • al-Haqq dan al-Haqiqah, berdimensi metafisik dan fisik, rasional.

  • Objek kajian: invisible & visible.

  • ‘Ālam al-Mulk & ‘Ālam al-Syahādah





































Penolakan dan Penyaringan terhadap disiplin dan teori ilmu pengetahuan modern.

  • Penolakan dan Penyaringan terhadap disiplin dan teori ilmu pengetahuan modern.

  • Pengkajian serius terhadap pemikiran para pemikir Muslim dalam lintas disiplin ilmu.

  • Munculnya beberapa disiplin ilmu baru: Sains Islam dan Ilmu-ilmu Sosial Islam.








Do'stlaringiz bilan baham:


Ma'lumotlar bazasi mualliflik huquqi bilan himoyalangan ©fayllar.org 2017
ma'muriyatiga murojaat qiling